Jumat, 30 Januari 2015

Assalamualaikum Wr.Wb.,
Hai haiii ^_^, hayo udah dijawab belum salamkuu?

Hmm, mau nulis apa ya hari ini? sebenernya buanyaaaak banget yang ada dikepala niih, penginnya sih tak tuangin semua, tapiii koneksi itu kadang-kadang bener-bener nyebelin. Oh iya! aku mau cerita aah. Jadi pas libur semester ini aku dan mama punya kebiasaan baru, yaitu nonton film. Jam nya sih kadang jam 10 atau bisa juga jam 1 habis sholat zuhur dan makan. Biasanya yang ditonton  itu film action, karena mama punya genre favorit itu action, khususnya yang peran utamanya ganteng (uhuk, oke ini lebay). Kadang, aku juga nyuguhin film-film romance yang bener-bener menyentuh dan bagus, biar ga ngecewain mama. Yaa alhamdulillah siih, mama bilang bagus.


Film-film action yang kami tonton itu kebanyakan film-film lama yang mama emang suka sama jagoannya, misalnya die hard (over all baru nonton yang ke-5 sama yang ke-2), terus Taken (1,2,3), The expendables (1,2,3), new police story, Robin-B-Hood (yang ini ngakak guys), dan lain-lainnya. Kalo yang aku kasih itu kayak Fast and furious 6 (aku kasih karena ada kejutannya di bagian akhir yang bikin greget), film romance kayak Don't go Breaking My Heart, ATM error (film dari temen aku nih, mama ngakak banget nontonnya :D ), Radio galau FM (film indo pertama yang kami tonton selama liburan ini), teruus dan yang baru kemarin adalaaaah PK.

PK ini adalah film bollywood alias film india, yang main itu Aamir Khan. Filmnya bagus banget loh teman-teman, yaa walaupun tetep ada tarian dan nyanyiannya siih, tapi itulah ciri khas film india kan? Bagi kalian yang ga suka sama lagu dan tariannya, boleh di cepetin atau di skip aja kok, yang jelas filmnya top markotop! Mama yang ga suka film fantasy pun suka karena emang keren banget, kita diajak menertawai alien dan merenung tentang Tuhan. Wajib nonton yang ini yaah!

Naaah kebetulan, kakakku ada yang sukaaaaaaaaaa banget sama film india. Dia ngefans banget sama preity zinta dan sakh rukh khan. Mungkin semua film-film India rata-rata sudah ditontonnya. DAN kakakku ini hafal lagu India alias bisa nyanyi India loh pemirsa Indonesia setanah dan se-air! Keren buanget kaaaan?! hihihi. (orangnya pasti lagi senyamsenyum baca tulisan ini). Menurutku, kakakku ini ada laah sedikit mirip preity zinta (tapi pas langsing yah :P), sampe suaminya pun mirip Hritik Roshan, tau kaan? yang ganteng itu looh, kalo belum tau, ranya aja sama om google.
Udah di cari? gimana? Ganteng kaan?? :D

naah, karena beliau suka banget sama film india, jadi aku mau ngasih link download film PK dan link subtitlenya nih, Yaa bagaimanapun butuh subtitlenya juga kaan? kalo udah pada ngerti bahasa india sih ya gapapa ^_^ selamat berjuang mendownload cecee dan teman-temaan! selamat menonton!


Link downloadnya  ini -> Download PK
subtitle nya ini -> Subtitle

cara downloadnya itu,hapus centang di tulisan ini ""

terus, klik Direct download link.

Nanti kalo udah nonton, komen di bawah yaa ^_^

 Wassalamualaikum Wr.Wb

Kamis, 29 Januari 2015

Assalamualaikum Wr.Wb.,
Naah ini cerpen lama yang bikin aku ngakak.. monggoo
Judulnya: CERPEN


“Kertaaasss! Where are you!” terlihat seorang bocah sedang mengobrak-abrik meja belajarnya, ia berlari ke meja riasnya, lalu kembali ke meja belajarnya. Setelah memastikan bahwa sesuatu yang dicarinya memang tak ada, bocah itu berlari dan menutup pintu kamarnya dengan rapat. Ia mengambil secarik kertas kosong dan sebuah pulpen tak bertinta, lalu melempar dirinya ke kasur. Sembari berkeringat, ia mengoreskan tinta khayalan ke kertas yang sudah di gores tetapi masih bersih, si bocah mencoret asal2an, maka, terciptalah sebuah benang kusut bayangan buatan si bocah.
          Keringat di matanya semakin menjadi-jadi “Kenapa mesti hilang siih? bikin kesal aja! Oh mungkin bu jui yang ngerapihin kamar aku tadi memindahkan kertasnya, tapi ngga tahu dimana iih!”. Bu jui, begitulah nama ibu yang dikatakan mungkin memindahkan kertasnya tadi. Ibu itu bukanlah ibu kandung si bocah, melainkan ibu yang membantunya menyapu dan mengepel rumah, ibu yang datang jam 8 pagi dan pulang sekitar jam 3 sore. Ibu kandung si bocah sendiri tinggal di luar kota, luar pulau tepatnya karena di sana ada rumah baru yang sayang sekali jika tidak ditinggali. Si bocah tinggal bersama ayahnya yang selalu sibuk dengan tokonya.
 ‘Sssret’ kertas si bocah mulai sobek. ”Padahal susah banget ngebuatnya” lanjut si bocah mengomel, “isssshh, sebel banget siih, konsep cerpennya kan sudah dibuat, malah hilang sekarang. Aku kan jadi lupa kata-katanya.” tambahnya sambil mencoret moret kertas tadi yang tetap saja masih bersih. Bocah itu mengambil handphone-nya, dan mengirim pesan ke temannya, yang isinya seperti curahan hati sedih karena kertas konsepnya hilang.  “Apa ya cerpen yang mau aku buat kemarin? Mana besok belajar bahasa Indonesia pula. Inspirasinya lagi ngga ada sekarang, bikin cerpen kan susah. Tolong hamba ya Allah, bikin cerpen menurut pengalaman” ditambahkan dengan keringat di mata yang semakin mengucur.
         






Bocah ini baru saja berumur 15 tahun, tanggal 18 maret lalu, dan karena minggu itu tidak sekolah , ada US (baca: Ujian Sekolah) anak kelas XII, maka ia  terbebas dari bau telor busuk yang biasa dilemparkan teman-teman-temannya kepada orang yang berulang tahun. Bocah ini kelas X sma, terlihat dari buku Bahasa indonesianya yang tergeletak di atas meja belajarnya itu.
Bocah itu mulai bersuara lagi “mungkin kalo ibu  nyuruh aku bikin puisi, aku bakal bikin sekarang, tapi isinya “DONGKOL.. DONGKOL.. DONGKOOOOOOOOLLL!!”  penghabisan kata yang terakhir di ikuti dengan mengoyak habis kertasnya menggunakan pulpen tanpa tinta dan napas yang ngos-ngosan.
           “Astaghfirullah hal adzim.. Astaghfirullah hal adzim.. Astoghfirullah hal adzim” si bocah menarik nafas panjang, mengeluarkannya, menariknya, dan mengeluarkannya lagi, setelah agak tenang ia lalu berkata “Ampuni hamba Ya allah, hamba cuma ngga tau harus ngapain, kesel banget, terakhir kali aku bikin cerpen, itu waktu kelas 9, dan cerpennya memalukan, kata-katanya lugu banget, ceritanya acak adul, sekarang gimana? Kayaknya malah tambah acak adul deh” Keluhnya. Kelakuannya memang seperti bocah bukan? Kerjaanya hanya mengeluh dan mengeluh. Itulah mengapa aku memanggilnya bocah, di sekolah pun kekanak2annya kadang masih terbawa, walau begitu, jika dewasanya sedang keluar, ia bisa seperti nenek2 yang sedang menceramahi cucunya. Prestasinya pun tak terlalu bagus di sekolah, walau masuk sepuluh besar, dia sendiri tidak percaya dan selalu bertanya-tanya kenapa dia bisa masuk sepuluh besar. Padahal kerjanya cuma main, ngobrol, ngegosip dan mengejek orang di kelas. Bahkan seringkali bikin pr di sekolah. Hhmm, dasar bocah ingusan yang aneh, dan dia memang lagi ingusan.
          “Ya allah, aku ngga bisa ngebayangin apa kata ibu Elva besok, udah di kasih waktu seminggu, masih juga ngga bikin, trus aku bakal kena hukum, trus..trus,..trus,.” mulut nya trus saja mengomel, sampai akhirnya dia capek sendiri dan berbaring, mencari inspirasi. Malam semakin larut, sudah pukul  00.21 WIB, dan si bocah ini belum juga tidur, sesekali ayahnya yang sudah tutup toko memanggilnya dan mengingatkannya untuk tidur “Nak belum tidur? Udah jam berapa ini?”





Si bocah menyerah lalu menunaikan shalat isya dan berencana untuk tidur. Ia menutup mukanya dengan bantal, sesekali bangun untuk menarik napas. Ia membaca doa tidur dan berusaha untuk tidur. Tapi entah mengapa ia malah terbayang wajahnya yang memerah sebab dihukum Ibu Elva karena tidak membuat tugas cerpen yang diberikan. Lama-kelamaan, ia teringat sebuah film yang di tontonnya sabtu malam bersama desri di rumah masing-masing, Stranger Than Fiction judulnya, disitu menceritakan  tentang orang yang sedang membuat cerita…
          “AHA!!” tiba2 ide itu melayang2 di otak yang sudah ada sarang laba-labanya itu. “kenapa ga kepikiran dari tadi yaaa? Dasar dodol!”. Bangun lagi, mengambil laptopnya, dan mulai mengetik cerpen nya…
Dalam hatinya berkata “mungkin kalo konsep itu ga hilang, aku bakal mengumpulkan cerita dodol aku yang itu, sekarang setidaknya aku bisa mengumpulkan cerita dodol aku yang baru. Yah, tak apalah!” Bocah ini baru bisa tertawa setelah cerpen ini selesai, dasar bocah…







~ The End ~









                                                                  Nama: Marchelina Susanto
                                                                  Kelas : X.A


 Wassalamualaikum Wr.Wb
Assalamualaikum Wr.Wb.,
Ini cerpen yang aku janjiin di awal, monggo ^_^

Mukenah Bau!
          Alarm subuh hari itu sudah berbunyi tiga kali. Namun empat orang penghuni kamar utama masih enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya masing-masing. Mama lah orang pertama yang bersuara “Dantiii, sekolah naak, udah jam setengah 5 lewat niih. Putraaa, banguun, katanya ada les pagi”. Hening. Anak-anak masih malas membuka matanya, mereka masih berkemul selimut dan memeluk gulingnya masing-masing, termasuk Elin. Sang kakak tertua di rumah itu. “Eel, kok pagi ini beda banget ya? Pada males gitu, padahal biasanya kamu yang rajin dan bangun duluan”.
          Elin membuka dan mengerjapkan matanya agar menyesuaikan dengan keadaan kamar yang remang-remang. “Alhamdulillahil ladzi ahyana ba'da ma amatana wailaihin nusyur” ucapnya seraya mengusapkan kedua tangannya ke wajah. Lalu, dengan langkah gontai Elin keluar kamar, menyalakan lampu, dan mengambil segelas air untuk ia minum. Memang merupakan kebiasaannya minum segelas air putih segera setelah bangun tidur, “Tenggorokanku kering” katanya. Katanya sih bagus buat kesehatan, tapi pastinya gimana elin juga belum tau, yang jelas dia haus dan sudah kebiasaan. Itu aja.
          Danti dan putra baru bangun setelah elin selesai berwudhu. Elin adalah anak ketiga dan danti adalah anak kelima, sedangkan putra anak terakhir, ia bungsu, anak keenam. Untuk masalah sholat, Elin sering memakai mukenah danti dan begitupun danti, sering memakai mukenah elin, bahkan sebenarnya, mereka tidak tahu punya mereka yang mana karena terlalu sering bertukar mukenah.
          Pagi itu, saat elin hendak sholat, ia merasakan aroma tidak sedap pada mukenah yang dipakainya. “aih, ni mukenah udah lama kayaknya, atau danti sering tidak mengelap bagian dagunya, jadi sering lembab dan jadi gini”. Dicopotnyalah mukenah itu, lalu ia ambil yang satunya, yang baunya tidak terlalu menyengat. Hal ini karena ia terlalu malas ke kamar belakang mengambil yang masih dilemari. Ia membatin ‘hehehe, biarin si Danti yang pake mukenah bau, aku pake yang ini aja terus aah, yang ga terlalu bau’. Lalu ia sholat shubuh. Selesai sholat, wirid, dan berdoa, dengan masih mengenakan mukenah itu ia mengaji dua lembar. Saat masih di lembar pertama, Danti selesai mandi dan baru mau sholat subuh.
          Apa yang terjadi selanjutnya membuat Elin membatin ‘Aseem, kenapa aku ga kayak gitu aja tadii?’. Ternyata danti lebih rajin daripada Elin, setelah mencium aroma yang tidak sedap pada mukenahnya, ia pergi ke kamar belakang dan mengambil mukenah yang masih wangi dari lemari, yang lama ia taruh di cucian. Lalu Danti sholat dengan khusyuk, sedangkan Elin melanjutkan ngajinya sambil sebel sendiri.
***
          Hari itu adalah hari jum’at, oleh karenanya, Danti dan Putra pulang lebih cepat. Sedangkan Elin sedang tidak masuk karena lagi libur. Siang itu, selagi Putra pergi ke masjid untuk sholat jumat, Danti, Elin dan Mama berkumpul di dapur untuk menonton. Eh, kok nonton sih, maksudnya masak beib. Nah sambil bantuin mama masak, Danti cerita tentang kejadian di sekolah.
          “Ma, Danti punya temen, dia itu lebih ndut dari pada Danti mah.” “hmm, terus?” Tanya mama heran. “Iya ma, masak dia bilang ke Danti kaya gini ma, ‘kamu gendutan ya Dan, masih langsingan aku’, eeeh ya danti ketawa dong ma, temen-temen yang denger juga ketawa” ia cerita sambil ketawa. “Dantiii, hati-hati ntar ludahnya muncrat ke sop lhooo” Elin mengingatkan sambil ngejek. Mama bilang “waaah, tapi kasian lho temen kamu dan, kok diketawain sih? Nanti tersinggung lho”. “iiih nggak maah, dia itu orangnya santaaai banget, ga pernah marah walau diejek gimana pun ma. Sabaar banget deh pokoknya, dia malah juga ikut-ikutan ketawa kok maaa”. “Yee, hati orang mana ada yang tau dek” sambung Elin. “eeh tapi beneran lucu loh kak, nih ya, gimana ga lucu coba kak, dia udah seneeng banget dan udah bangga banget dia bilang turun berat badannya, dan kakak tau? Ternyata setelah ditanya turunnya Cuma 1 ONS! Hahahahaahaha” “hahahhaahahahaa” kontan  mama dan elin pun ikut tertawa. “lucu ya sayang, tapi yang jelas kita kan ga diperbolehin ngejek-ngejekan, apalagi buat bahan tertawaan. Jangan ya nak” tambah mama. “hehehe, yaa mau gimana lagi ma. Orang dia yang mulai kooook”. “Dantiiiiii…” kata Elin dan Mama serempak. “ehh iya iyaaa maa, kaak”.
          “oh iya dek, kalau habis wudhu, tolong dagu atau skalian wajah kamu dilap pakai handuk dong, biar mukenah kita ga pada bauu” Elin membuka topik baru. “hehe, gitu ya kak. Okee deh, tapi kalo danti ga lupa yaaah kaak”. “Yaa tapi diusahain doong”. “Siaap booss! Eh tapi udah Danti ganti kok yang bau kak”. “Iya kakak tau, makanya kakak ngomong biar yang masih wangi itu ga jadi bau dedek ku yang manis” kata elin sambil mau mencubit pipi adiknya yang langsung ditangkis mentah-mentah.
          “Assalamualaikuum!” ucap putra setengah berteriak. “waalaikumsalam waroh matullah” jawab ketiga manusia yang sudah selesai memasak di dapur. “waaah si ganteng udah pulang ya” kata mama sambil menyambut tangan putra yang mengajak salaman. Putra membalas dengan senyumnya yang manis karena gigi pongahnya (baca: ompong). Setelah salaman dengan kedua kakaknya, ia pun diambilkan mama nasi. Sementara itu, Elin dan Danti beranjak mengambil wudhu untuk sholat zuhur.
          Elin yang mendapat giliran pertama berwudhu. Setelah selesai, ia melesat ke kamar untuk mengambil duluan mukenah yang baru diambil adiknya tadi pagi, yang jelas lebih wangi daripada yang tadi pagi dipakainya. Huuuu! Dasar curaang!. Danti masuk ke kamar saat Elin sedang memakai mukenah itu. Danti pun berkata “jiaaah kan Danti yang ngambil itu tadi pagi kaaak! Yang ini kan bauuuu!” Elin hanya membalas dengan cengiran super -maaf deh- miliknya. “Kak elin curaaang! Awas yaah!” tambah Danti lagi. Ia lalu mengambil mukenah yang tadi pagi dipakai kakaknya. Danti berjalan melewati kakaknya sambil berkata “ya udah kalo gituuu, kakak pakai aja yang itu terus yaaa!”. “oke!” kata Elin girang. Dengan begitu sebagai kakak, Elin merasa menang, ia tersenyum.
          Namun ternyata, “Danti mau ambil yang baru lagi ajaaaa!” katanya, danti pun pergi ke belakang. “waaaaah! kamu curaaaaang deeeek! Kakak aja yang ambil baruuuuuu” sahut Elin. Ia merasa kalah, ternyata adiknya lebih pintar. “OOOOoo tidak bisaaaa!” Jawab Danti sambil cekikikan meniru gaya Sule.
“iihh sebeeeel”
“makanyaaaa! Jadi kakak itu ngalah dong sama adiknya kaaaak! hihihihi”
Danti pun menaruh mukenah itu ke cucian dan mengambil mukenah yang baru lagi di lemari, yang masih wangi, lebih wangi dari yang tadi pagi.
Tak mau kalah, Elin pun membalas ucapan adiknya, “makanyaaaa! Jadi adik itu yang nurut doooong!” entah nyambungnya kemana, yang penting Elin nyahut.

“Nah looooh! Hahahah” Mama pun tertawa dibuatnya. 

 Wassalamualaikum Wr.Wb
Assalamualaikum Wr.Wb.,
Dijawab loh yaa, hukum menjawab salam itu wajib alias fardu kifayah teman-teman ^_^. Apa kabar nih semuanya? udah lama yah aku ga nulis disini? naah kebetulan lagi libur kuliah nih dan internet lagi lancar, jadi bisa nulis lagi deh. (maklum lah, aku tinggal di sebuah desa di tegal, susah sinyalnya guys). Jadi jadi jadi, kemarin ada kejadian lucu yang aku tulis jadi sebuah cerpen yang ditambahin sedikit lada dan garam (baca: bumbu). hihi
Temen-temen pada mau tau ngga? kalo ngga ya udah ngga usah deeh. :P
oh iya, tapi sebelum itu aku mau cerita yang lain dulu deh.
Jadi begini temen-temen, kalo ngga salah waktu itu mati lampu. Nah, karena ga ada kerjaan jadilah aku ngebuka file-file lama di hardisk eksternal yang belinya dengan cucuran keringat (baca: duit tabungan). Nahh di situ ada cerpen lama aku yang, yaah kau tahu, ancuuuuurr banget. Bahkan waktu sudah direvisi masih parah, hahaha aku pun ketawa sendiri. Cerpen ini padahal adalah tugas dari guru bahasa Indonesiaku, TUGAS loh teman-teman, dan aku masih menemukan kata-kata yang disingkat dan bahkan pengulangan kata manggunakan angka '2', Oh my god, aku gagal menjadi siswa Bahasa Indonesia yang baik. Pantes aja dulu aku nilainya dodol kabeh (kabeh=semua). STOP! jangan ketawa ^_^
ntar aku posting yah dua-dua nya..
 Wassalamualaikum Wr.Wb
ayo jawab!
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Popular Posts